Apa masih makan nasi di Australia?
Kalau saya sedang chatting atau telpon dengan kawan-kawan atau keluarga di Indonesia, pertanyaan yang paling sering diajukan mereka adalah: "Pangananmu opo saiki? Opo yo isih mangan sego?". ("Makananmu apa sekarang? Apa masih makan nasi?"). Saya berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di sebuah kota kecil dan kami tidak pernah merasakan hidup di negeri lain. Sejak kecil nasi adalah makanan wajib yang harus disantap setiap hari. Yang kami tahu sejak kecil dari film-film di televisi adalah orang bule itu makanannya cuma roti, burger, kentang, cereal. Jadi kesimpulannya di Australia pasti tidak ada yang jualan nasi. Benarkah?
Ternyata mencari beras di Adelaide ini sangat mudah. Di supermarket-supermarket besar seperti Coles dan Woolworths (kalau di Indonesia semacam Hero, Ramayana, atau Carrefour) beras bisa dengan mudah ditemui di lorong area Asian food. Beras juga bisa didapat di toko-toko penjual bahan makanan di daerah Chinatown. Orang yang mengkonsumsi beras di Adelaide ini bukan cuma orang Indonesia tapi juga orang Asia lainnya seperti China, Vietnam, dan India yang jumlahnya jauh lebih banyak dari orang Indonesia. Jadi selama tinggal di Adelaide ini makanan kami sehari-hari tidak banyak berubah. Ya nasi, sayur, ayam, telur, ikan, daging, sambal, kerupuk, dan tahu tempe.


Kalau untuk mencari sayur mayur, daging, dan buah-buahan, tempat yang paling populer adalah Adelaide Central Market. Selain harganya lebih murah daripada di supermarket, pilihannya juga lebih banyak. Di samping itu ada juga penjual khusus daging halal (halal meat). Tapi tidak seperti kebanyakan pasar di Indonesia yang buka setiap hari, Central Market di Adelaide ini hanya buka 4 hari seminggu, yaitu Selasa, Kamis, Jumat, dan Sabtu. Jadi kalau hari Minggu, Senin, dan Rabu pasar ini tutup.

Salah satu toko makanan Asia yang juga populer di kalangan pelajar Indonesia di Adelaide adalah Thuan Phat. Toko ini lokasinya masih di area yang sama dengan Adelaide Central Market. Di toko ini banyak tersedia produk asal Indonesia seperti saus, kecap, bumbu-bumbu instan, krupuk, biskuit, kopi, teh, mie instan, dan sebagainya.
Kalau mau nasi yang sudah dimasak lengkap dengan lauk pauknya, biasanya kami membelinya di religious centre di kampus Flinders. Yang ini hanya ada di hari Jumat pada waktu sebelum dan sesudah sholat Jumat karena saat itulah banyak orang Indonesia ngumpul di sini. Yang jualan juga ibu-ibu dari Indonesia. Menunya tidak hanya nasi, tapi juga kadang-kadang bakso, mie, empek-empek, dan berbagai makanan khas Indonesia lainnya.
Saat kami ke Melbourne beberapa waktu lalu, malah lebih banyak lagi penjual makanan Indonesia. Kami juga baru tahu ternyata ada restoran Es Teler 77 di Melbourne. Sayangnya belum ada di Adelaide. Yang sampai saat ini belum saya temukan di Adelaide adalah penjual sego kucing alias nasi bungkus angkringan yang banyak bertebaran di sudut-sudut kota Jogja, dan menjadi salah satu makanan favorit saya dulu.

Comments
Sego kucing? Arep dikirimin tah?
Wekekek... piye kangen sego kucing tah? Arep dikirim songko Jogjo gelem tah...? Hehehe...
Sego kucing? Arep dikirimin tah?
iyo pak... yen iso dikirim lewat email wae....hehe....
Post new comment